Yogyakarta – Dalam ruang praktik yang sederhana, kadang lahir ide-ide besar. Dari konsultasi yang tertunda dan pertanyaan yang tak sempat terucap, lima mahasiswa magister kebidanan Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta menemukan celah: banyak ibu hamil butuh informasi, tapi tak selalu tahu harus bertanya ke siapa dan kapan.
Fenomena ini ditemukan oleh Della Winanti, Yuni Fitria, Tiara Mudrika, Arryan Rizqi, dan Dilma Suzete, ketika mereka menjalani praktik klinik di Klinik 24 Jam Firdaus Yogyakarta selama sepekan, dari 26 hingga 31 Mei 2025. Praktik yang merupakan bagian dari kurikulum Magister Kebidanan Angkatan 12 ini justru menjadi titik awal sebuah gagasan inovatif: membangun media digital edukasi kehamilan yang dapat diakses kapan saja dan oleh siapa saja.
Di bawah bimbingan Dr. Sulistyaningsih, S.KM., MH.Kes dan dr. Septrivia Fryzka Moneffi, mereka tidak hanya diajak untuk menerapkan teori dalam praktik medis, tetapi juga didorong memahami konteks sosial pasien dan tantangan nyata yang dihadapi masyarakat.
Dalam pengamatan mereka, waktu konsultasi yang singkat, serta rasa sungkan bertanya, menjadi penghalang ibu hamil dalam memperoleh informasi penting terkait kehamilan. Padahal, keterlambatan informasi bisa berujung pada risiko serius bagi ibu maupun janin. Maka, tim ini merasa perlu menghadirkan solusi yang praktis, nyaman, dan tetap berbasis keilmuan.
“Banyak ibu datang dengan kegelisahan, tapi pulang tanpa jawaban tuntas. Dari situ kami sadar, kehamilan bukan cuma soal medis, tapi juga soal komunikasi dan akses informasi,” ujar Della Winanti mewakili timnya.
Untuk mewujudkan solusi tersebut, mereka menggandeng mahasiswa dari Program Studi Teknologi Informasi UNISA untuk merancang sebuah website edukasi digital. Media ini bukan sekadar blog, melainkan platform yang dirancang agar bisa menjadi teman digital para ibu — tempat bertanya, membaca, dan belajar tanpa rasa takut atau malu.
Konten awal website mencakup empat topik utama: Tanda Bahaya Kehamilan, Kebutuhan Nutrisi Selama Kehamilan, Perkembangan Janin Tiap Trimester, dan Faktor Risiko Kehamilan. Semua informasi disusun dari sumber-sumber ilmiah dan pedoman klinis yang sahih, kemudian diolah ke dalam bahasa populer yang mudah dicerna.
“Kami ingin pembaca merasa seperti sedang mendengarkan nasihat dari teman, bukan ceramah dari ahli. Bahasa yang ringan, tapi tetap akurat dan terpercaya,” terang Tiara Mudrika.
Klinik Firdaus, tempat mereka menjalani praktik, turut memberi peran besar dalam mendukung inisiatif ini. Pihak klinik membuka ruang diskusi dan memberi keleluasaan mahasiswa untuk mengeksplorasi gagasan. Pendamping lapangan juga mendorong mereka berpikir kritis terhadap realita lapangan, dan bukan sekadar menjalankan prosedur teknis.
Menurutnya, pendekatan inovatif ini perlu terus dikembangkan. “Praktik lapangan harusnya menjadi arena eksperimentasi ide dan solusi. Ini yang kami dorong: mahasiswa bukan sekadar ‘menjalani’ praktik, tapi menciptakan makna dari praktik itu sendiri,” ujarnya.
Website ini tidak hanya ditujukan sebagai sumber informasi, tetapi juga sebagai bagian dari upaya promotif dan preventif kesehatan ibu dan anak. Di tengah tantangan tingginya angka stunting dan kematian ibu di Indonesia, informasi yang tepat bisa menjadi penyelamat. Tim ini melihat peluang besar di sana — menjadikan teknologi digital sebagai jembatan pengetahuan antara tenaga kesehatan dan masyarakat luas.
“Stunting dan kematian ibu sering kali bisa dicegah jika informasi sampai ke masyarakat sejak awal. Website ini kami bayangkan sebagai langkah awal ke arah sana,” jelas Dilma Suzete.
Dalam perjalanannya, proyek ini masih terus dikembangkan. Tim berharap bisa menambah fitur interaktif seperti konsultasi daring, ruang tanya-jawab, hingga forum diskusi antaribu. Meski dimulai dari tugas praktik klinik, mereka ingin inisiatif ini terus hidup bahkan setelah masa studi mereka usai.
“Kami tahu ini bukan karya besar. Tapi kalau bisa membantu satu ibu membuat keputusan yang tepat untuk kesehatannya, itu sudah cukup bagi kami,” tambah Yuni Fitria dengan mantap.
Pentingnya akses terhadap informasi kesehatan yang mudah, akurat, dan ramah semakin terasa di era digital seperti sekarang. Banyak ibu hamil mencari jawaban dari media sosial atau forum daring yang belum tentu terpercaya. Celah inilah yang ingin dijembatani oleh tim mahasiswa kebidanan UNISA.
Mereka menyadari, peran tenaga kesehatan kini bukan hanya sebagai pelayan klinis, tetapi juga sebagai pendidik masyarakat. Dalam dunia yang semakin terdigitalisasi, tugas itu tidak lagi hanya bisa disampaikan melalui tatap muka, tapi juga melalui media digital yang menjangkau lebih luas.
Kolaborasi lintas program studi antara kebidanan dan teknologi informasi juga menunjukkan bahwa inovasi di bidang kesehatan membutuhkan kerja sama multidisiplin. Dari sudut Yogyakarta yang hangat, lima mahasiswa ini menunjukkan bahwa perubahan bisa dimulai dari langkah kecil, dengan semangat besar, dan keberanian untuk bertindak.
Mereka berharap, ke depan semakin banyak klinik, kampus, dan lembaga kesehatan yang mau mendengarkan suara mahasiswa, memberi ruang untuk bereksperimen, dan mengembangkan inovasi berbasis empati dan ilmu pengetahuan.
“Inovasi bukan monopoli orang besar. Kami percaya, setiap mahasiswa punya potensi menjadi agen perubahan jika diberi kesempatan. Kami hanya membuktikan bahwa hal itu mungkin,” pungkas Arryan Rizqi.
Dari ruang praktik sederhana di Yogyakarta, sebuah langkah kecil telah diambil. Website edukasi ini mungkin belum sempurna, tetapi ia membawa pesan penting: pendidikan kesehatan harus bisa diakses oleh semua, kapan pun dan di mana pun.
Dengan media ini, mereka berharap para ibu tak lagi merasa sendirian dalam menghadapi masa kehamilan. Karena kadang, informasi yang datang tepat waktu bisa menjadi penyelamat nyawa — dan itu bermula dari tangan-tangan mahasiswa yang peduli. (Titik)
